Meraba Pola Kepimpinan Yang Ideal bersama Sujiwo Tejo & Habib Anis

Selasa (27/12) , Dewan Mahasiwa (DEMA) IAIN Salatiga Rektor Iain Salatiga kembali mengahadirkan dua tokoh budayawan nasional. Dua tokoh ini dihadirkan untuk memberi penerangan bagaimana pola kepimpinan yang ideal. Seperti diketahui, bahwa daerah-daerah di Indonesia akan melaksanakan pemilihan kepala daerah.

Melalui DEMA IAIN Salatiga mengajak mahasiswa dan masyarakat yang ada di Kota Salatiga untuk bisa mengetahui pola pepimpin atau kepala daerah. Acara yang dibalutr dengan talkshow ini mengangkat tema "Meraba Pola Kepemimpinan Yang Ideal". Sujiwo Tejo & Habib Anis Sholeh Ba'asyin sebagai tokoh budayawan nasional sengaja dihadirkan untuk membahas talkshow tersebut. Di Halaman Aula Kampus 1 menjadi tempat yang trategis dalam acara tersebut.

Rektor IAIN Salatiga Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. secara langsung memberikan sambutan sekaligus membuka talkshow tersebut. Dalam sambutannya Ia menyampaikan, terimakasih atas kehadiran budayawan nasional ditengah-tengah seluruh sivitas akademik IAIN Salatiga.

“Dengan adanya talkshow ini diharapkan dapat menambah wawasan & pengetahuan tentang kepemimpinan baik di lingkungan mahasiswa maupun masyarakat Kota Salatiga", imbuh Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd..

Sedangkan Sujiwo Tejo dalam pemaparannya mengatakan, melindungi itu lagu utama, tapi tidak tepat kau melindungi aku (Allah SWT). Dari sekian banyak tipe pemimpin ada dua yang lebih berkesan. Yaitu, pemimpin itu laksana matahari, dia yang memberikan energi kepada anak buahnya. Pemimpin harus seperti bulan, dikala gelap dapat menerangi seisi alam. Menerangi rakyat atau bawahannya dalam kegelapan untuk mendapat solusi.  

"Menghina Allah tidak sekadar menginjak-nginjak Al Qur'an, khawatir besok tidak bisa makan, khawatir besok tidak mendapat jodoh, itu juga termasuk menghina Allah", lanjut Tejo.

Kemudian Habib Anis Sholeh Ba’asyin memaparkan tentang pola kepemimpinan yang ideal yaitu dengan tidak mudah mempercaiyai dari yang selalu mengumbar kesombongan. Karena awal dari tidak amanahnya seorang pemimpin yaitu saat kesombongan ditampak dipublik. Disisi lain Ia juga mengatakan, banyak yang hilang dalam diri seorang pempimpin dan tanpa disadari dengan penyebabnya mereka sibuk dengan keramian dikalangannya sendiri.

"Jangan pada gégér (ramai/ribut) sendiri, karena ketika mereka gégér, sendirinya tidak sadar, banyak yang hilang dari dalam dirinya sendiri"