RAMADHAN: TAMU YANG MEMBAWA SUGUHAN

Ramadhan bisa diibaratkan tamu, yang secara periodik mengunjungi setiap orang yang beriman. Ia datang berselang sebelas bulan, dan bertamu selama satu bulan. Makna kehadirannya, akan dirasakan berbeda-beda oleh masing-masing tuan rumah yang didatangi. Hal ini tergantung pada ketulusan dan kesungguhan dalam menyambut dan menerima kehadirannya. Bahkan, rasa kehangatan dalam kunjungan tamu tersebut, bisa dirasakan berbeda oleh seseorang antara tahun kemarin, tahun sekarang dan mungkin tahun yang akan datang bila masih punya kesempatan.

Tidak seperti tamu pada umumnya, tamu Ramadhan tidak mengharapkan tetapi justeru membawa dan menawarkan suguhan kepada yang dikunjungi. Diantara jamuan yang ditawarkan oleh Ramadhan adalah berupa keberkahan, kebaikan, insentif/pahala, dan inspirasi. Dari berbagai tinjauan, Ramadhan menawarkan kebaikan dan  keberkahan. Dari dimensi fisik dan kesehatan, manfaat dan kebaikan Ramadhan dapat dibuktikan secara ilmiah tanpa diragukan. Dalam dimensi mental kepribadian, Ramadhan menawarkan pendidikan dan pembiasaan yang membentuk manusia yang disiplin dan berkarakter. Ramadhan  menawarkan hidangan istimewa dan ajaib, yaitu orang yang memakan dan menikmati kelezatannya, niscaya akan menjadi orang yang baik. Para penikmat perjamuan Ramadhan akan berubah menjadi selalu berpikir yang baik-baik, berkata yang baik-baik, dan berbuat hanya yang baik. Dari dimensi sosial, jamuan Ramadhan menjadikan penikmatnya akan selalu berprasangka baik kepada orang lain, bersikap baik, banyak memaafkan, dan ringan tangan untuk menolong dan memberi.

Kunjungan Ramadhan juga menawarkan insentif atau pahala. Mereka yang menikmati suguhan Ramadhan, akan dapat meraup insentif yang berlipat dari biasanya. Ditawarkannya di meja perjamuan, suatu malam yang nilai kebaikannya melebihi seribu bulan. Selain itu, Ramadhan juga menghidangkan inspirasi yang tersaji di malam dan siang hari ketika setiap pribadi melakukan muhasabah dalam i’tikaf. Mereka yang bisa mencecap kelezatannya, niscaya akan laksana terlahir kembali, menjadi pribadi baru yang bersih, semakin rendah hati, murah hati, dan baik hati.

Itulah berbagai suguhan yang dibawa oleh tamu tahunan orang beriman. Tahun ini kembali tamu itu datang berkunjung. Seperti tahun-tahun sebelumnya banyak yang pada awalnya begitu bersemangat menyambutnya, namun di hari-hari berikutnya hidangan lezat yang dibawa sang tamu itu dibiarkan basi begitu saja. Sampailah di hari-hari akhir, biasanya timbul penyesalan betapa kita terlalu sedikit mencicipi lezatnya hidangan Ramadhan tahun ini. Dan setiap orang tidak ada yang bisa menjamin bahwa Ramadhan akan kembali mengunjunginya tahun depan.

Ada satu cara menyambut kedatangan Ramadhan, sebagaimana yang diajarkan oleh Kanjeng Rasul Muhammad Saw. ketika seseorang melaksanakan shalat, ia harus beranggapan bahwa shalatnya itu merupakan shalat yang terakhir, shalat perpisahan dalam hidupnya. Bila kehadiran Ramadhan tahun ini, dianggap sebagai Ramadhan terakhir dalam hidup seseorang, dan tahun depan dia sudah tidak akan lagi berjumpa dengan Ramadhan, maka betapa sempurnanya ia melaksanakan, betapa khusyu’nya, betapa ikhlashnya, dan betapa sungguh-sungguhnya ia melahap semua hidangan yang disajikan oleh Ramadhan. Seakan tidak ada secuilpun yang mau ia sisakan, seakan tidak ada waktu sedetikpun yang mau ia lewatkan.

 

اللهم بارك لنا في رمضان  وتقبل حسن استقبالنا له

 وأعنا على صيامه وقيامه. آمين.

 

 

Sumber bacaan: Abdul Aziz bin Mustofa Kamal. 2004. Ruuhus Shiyaam wa Ma’aanihi. https://islamhouse.com/ar/books/205812/